Stories Behind the Making of Newspaper

by Panti

Saya terbaring seminggu lebih…. Jika tengah sendiri, saya suka bertanya-tanya dalam hati,”Sedang apakah almarhum Pak Tio di alam baka?” Sedang apakah Pak Bob di sana? Apakah keduanya bertemu dan malah bikin koran baru???? Kebetulan ada juga temanku dari Batak Pos, Robert, juga telah meninggal dunia. Ketiganya saling mengenal. Mungkinkah mereka bertiga bertemu? Mungkin ini pikiran gila…..tapi Alhamdulillah justru jadi penghibur terutama setiap kali ingat Pak Tio.

Saya mengenal Pak Tio sejak 1997, tepatnya begitu masuk Harian Berita Buana. Kami terus bersama-sama di Harian Berita Buana, Harian Jakarta, hingga Harian Merdeka. Saya sudah merasakan bagaimana rasanya naik mobil Pak Tio yang pada saat di Berita Buana, mobilnya tidak punya spion (pecah). Alhasil, Pak Tio dan saya harus berbagi pandangan melihati mobil di sekitarnya. Deg…degan dan tentu saja tawa tak henti-henti sepanjang jalan. Tapi hebatnya nyampai juga dengan selamat tanpa ketilang polisi. Terakhir kali di Harian Merdeka, saya beberapa kali numpang mobil Pak Tio yang lebih lux dan harum, wis…pokoke mak nyusss..

Setiap kali ketemu Pak Tio, pasti saya tertawa….persisnya saling meledek. Rambutnya yang putih, kedekatannya dengan Yorrys jadi sumber canda. Meski sering diledek, beliau nggak pernah tersinggung (nggak tahu seh hatinya seperti apa). Satu hari, ia mengaku ditugaskan liputan sekaligus lobi iklan dengan seorang account executive cantik.

Kata Pak Tio, karena si “AE” penakut, maka mereka hanya menyewa satu kamar hotel. “Waduh, Pan….selama di kamar saya tegang banget. Habisnya tuh si “AE” kayaknya mancing-mancing?”

Lalu saya bertanya,” La jadi selingkuh dong?”.

Pak Tio menjawab,” Ya nggaklah…. setiap tegang saya shalat tahajud…”.

Ha….ha…ha

Saya tadinya kurang percaya cerita ini. Namun ketika keduanya saya pertemukan dan cross check, cerita itu benar adanya. Si “AE” mengakui bahkan memuji kesetiaan Pak Tio..

Pak Tio, terimakasih atas persahabatan selama ini. Bapak telah memberikan banyak pelajaran bagaimana menjadi seorang wartawan yang baik.

Terimakasih, Bapak telah mengajarkan saya tentang kesetiaan. Pak Tio juga yang selalu memberikan saya semangat dan optimis memiliki pendamping mualaf, karena beliau seorang mualaf namun ibadahnya luar biasaaaa…..

Pak Tio bisa menjadi pembelajaran umat muslim, ibadahnya nggak pernah absen. Pak Tio, terimakasih juga dulu hanya bapaklah yang menghadiri pernikahan saya di Tangerang……Semua itu takkan terlupakan….

- Panti -

by Elisa

Sekitar pkl 10 siang kmaren, saya dpt sms dari mbak Panti… Innalillahi….

Seperti yg lainnya saya tdk nyangka Pak Tio pergi secepat ini. Bersama Lila, saya mendatangi rumah duka… Agak sedih, karena kita datang terlambat… Jenazah Pak Tio sudah dikebumikan. Kami bertemu dengan istrinya, Mbak Hesi… Saya tanyakan kronologi kejadiannya… Kata Mbak Hesi, pagi itu seperti hari-hari biasa… Pak Tio bersih-bersih halaman rumah, diilanjut mencuci mobil… “Tiba-tiba dia mengeluh lambungnya sakit sekali… Saya pikir sakit maag biasa, makanya Saya kasih ‘milanta’. Tapi kok makin sakit katanya,” ucap wanita yang tampak tabah itu.

“Tiba-tiba dia anfal, saya langsung panggil tetangga dan membawanya ke rumah sakit,” lanjut Mbak Hesi. Menurut istri Pak Tio itu, saat di rmh sakit, detak jantung Pak Tio masih ada… Tapi hanya sebentar… Sekitar pkl 8 pagi, dokter menyatakan, Pak Tio kena ‘serangan jantung’ dan tidak bisa diselamatkan….

Selamat Jalan Pak Tio….. Terima Kasih untuk semua yg telah Pak Tio berikan ke Saya…. Bimbingan selama saya menjadi wartawan di HarJak, juga setelah saya di media lain.. Beberapa kali saya sempat menemui Pak Tio di kantornya, Gedung Cyber – Mampang. Juga, ketika saya mendapat tawaran ke sebuah media televisi. Saya sempatkan untuk ngobrol dengan Pak Tio, minta pendapat beliau…. “Dimanapun Kamu berada, Kamu bisa Lisa… Syaloom,” katanya sambil mengedipkan mata untuk kata yg terakhir itu…

Gayanya yang nyante dan penuh canda, tapi tetap menunjukkan kecerdasannnya membuat saya tidak kehilangan rasa canggung untuk sering  bertandang ke kantornya, yang juga kantor sahabat saya Lila… Dan, belum ada sebulan Pak Tio juga sempat memberi komentar, ‘kene opo nduk?’ di status FB Saya.. Saya jawab, ‘mboten nopo2 Pak Tio…’  Saat itu saya memang sedang dalam kondisi ‘lemah’ setelah kepergian Ayah saya.

Sekali lagi, terima kasih Pak Tio….  Doa kami selalu terucap untukmu yg telah pergi dengan tenang dan begitu damai….

by Herwan

semalam niatnya mau ke rumah alm Pak Tio, tapi sudah terlalu larut. Akhirnya  pagi tadi sekalian nganter anak belajar mampir ke rumah keluarga Pak Tio.

selama 3 tahun ternyata tempat tinggal kami berdekatan. bahkan TK anakku melewati cluster rumah Pak Tio.

dulu taunya hanya bahwa beliau tinggal di bogor.. ternyata hanya beda komplek. masih sama2 di cileungsi..bogor. Tadi pagi aku bertemu dengan isteri dan dua putrinya. dan diantar Ibu Tio ke sarean/makam.

Cerita Ibu Tio, menjelang sakratul tidak ada firasat apa2. Pak Tio dan isteri akan berangkat ke tempat kerja bersama-sama bila di atas jam 8 pagi. Andai isteri pak Tio harus berangkat pagi, maka Pak Tio akan mengantar ke jln alternatif cibubur untuk mendapat angkutan/bis saat subuh. setelah itu pak TIo akan pulang ke rumah dan kembali tidur sebentar. Kali ini bila Pak Tio mengantar isteri menuju ke jl Alternatif Cibubur, maka beliau akan melewati cluster rumahku.

Pagi kemarin, Pak Tio akan berangkat kerja bersama isteri. setelah mandi dengan air dingin, yang biasanya memakai air hangat, Pak Tio sempat sholat dhuha. setelah itu, Pak Tio merasa sakit ulu hatinya. karena keringat dingin, ibu Tio mau mangganti baju/kaos Pak Tio. baru sampe di leher, kepala Pak Tio terkulai ke lengan sang isteri. Spontan Bu Tio memberi napas buatan dan menekan dada Pak Tio. karena tidak ada reaksi, Bu Tio meminta tolong tetangga, yang kemudian segera membawa Pak Tio ke RS Thamrin.
di RS, Pak Tio dinyatakan secara medis telah meninggal dunia.

kembali ke rumah, para tetangga – yg menurut Bu Tio sebagian besar salafi – mempersiapkan hal2 untuk keperluan jenazah. dari makam, kafan dan warga untuk memandikan dan sholat jenazah.

Pak Tio dimakamkan di belakang rumahnya, di makam umum untuk warga sekitar.

selamat jalan Pak Tio…

by Choki

Sebentar tapi bergetar

Terakhir kali, saya ketemu Bang Tio tahun silam di Malang, saat Kongres Sepak Bola Nasional. Kami tak banyak bicara, singkat tapi padat. Beberapa hari sebelumnya, saat diskusi dengan para wartawan senior di KONI ihwal kisruh sepak bola nasional, kami ketemu lagi. Seperti biasa, kami tak banyak bicara.

Dulu, tatkala masih sama-sama di Harian Jakarta juga seperti itu. Bang Tio redaktur saya di rubrik investigasi. Senang bisa bekerjasama dengan beliau. Bukan karena dia panjang sabar, tapi karena dia tak menjadikan jabatan sebagai sesuatu yg ‘sakral’. Terbukti, beberapa kali saya membantah usulnya, terkait penentuan tema investigasi, yang, menurut saya, muskyil dirampungkan sehari.

“Iya, Cok. Kau benar. Investigasi butuh waktu, juga dana. Tak mungkin kita bisa dapat berita bagus jika dikerjakan cuma sehari. Kalau begitu, ganti saja temanya. Buat saja yg ringan-ringan, tapi menarik,”

Saya tak tahu berapa lama saya di investigasi. Saya pernah di Polda, mabes polri, polres jakarta selatan, kemudian di fokus. Kendati tak lagi jadi anak buah langsung Bang Tio, kami masih tetap komunikasi atawa sekadar tegur sapa.

Harjak bubar, pasukan mencar.

Takdir kemudian membawa saya ke dunia sepak bola nasional. Di sini saya kembali ketemu Barry Sihotang, Mas Gonang, Joko Hambardin, dan Heri Sudewo (adik kandung Bang Tio).

Dengan Mas Dewo, saya berteman akrab. Kami beberapa kali liputan bareng ke luar kota, bahkan sampai ke negara jiran. Setiap hendak berpisah, saya tak lupa titip salam ke Bang Tio.

Kemarin, beberapa waktu lalu, Yulius mengirimkan pesan singkat di fesbuk saya: Pak Tio Sudah Berpulang. Sejam sebelumnya, humas PSSI juga mewartakan hal serupa.

Dada saya turun naik, menahan emosi. Romantisme saya terbang, melayang-layang. Saya merekonstruksikan wajah Bang Tio, satu persatu: wajah yg tenang, senyum yg tak putus, tatapan yg bersahabat, tutur kata nan sejuk, rambut yg memutih.

Sebentar, tapi bergetar

(Bang Tio, terima kasih untuk semua. Tenanglah di alam barzah sana…)

>

Selasa pagi, 8 Maret 2011, pukul 9 pagi. Tiba-tiba telepon genggam isteri saya berdering. Dengan wajah penuh keterkejutan, dia segera memberi tahu saya, itu telepon dari sahabat kami, Hasnawati yang akrab dipanggil Hessy, mengabarkan bahwa suami tercintanya Heru Suprantio alias Tio baru saja meninggal dunia … innalillahi wa inna ilai rojiuun.

Belum hilang rasa kaget kami, segera kami bersiap-siap menuju rumah duka, yang kebetulan berada satu kompleks dengan rumah kami, hanya beda blok, dan dalam waktu 5 menit kami sampai di rumah duka. Rupanya jenazah almarhum sedang dimandikan oleh para tetangga dipimpin oleh Uztad Lutfi. Dalam perjalanan menuju rumah duka, kami juga sempat memberi tahu beberapa teman mengenai kepergian alm Tio.

Suasana rumah duka masih sepi, hanya ada beberapa tetangga pria yang sedang memandikan jenazah, serta beberapa tetangga perempuan yang sedang menenangkan Hessy yang masih terlihat shock atas peristiwa ini. Menurut pengakuan beberapa tetangga, pagi-pagi tadi Mas Tio masih sempat menyapu halaman rumah dan mencuci mobil. Kejadiannya begitu cepat. Tidak diketahui secara persis penyebab meninggalnya Tio, walaupun ada dugaan mengalami serangan jantung, tetapi saya belum dapat informasi yang jelas. Begitulah, jika Yang Maha Kuasa Sang Pencipta sudah memutuskan kita harus menghadap-Nya, tidak ada yang sanggup mencegahnya. Pagi ini, rupaya Allah SWT memanggil Mas Tio untuk menghadap-Nya. Pagi itu, saya ikut serta bersama para tetangga untuk menyelenggarakan jenazah seperti yang disyariatkan oleh ajaran Islam.

Menjelang pemakaman dilakukan di siang harinya, ingatan saya kembali kepada tahun 2007, antara 3 – 4 tahun yang lalu. Saat itu sahabat kami, Hessy, yang kebetulan sama-sama berprofesi dengan isteri saya, Idrianita, sebagai dosen di Jurusan Akuntansi – Fakultas Ekonomi – Universitas Trisakti, meminta pendapat kami berdua. Kami sudah bersahabat baik dengan Hessy, dan saat itu sudah lebih dari 10 tahun, jadi mungkin Hessy juga sudah tidak sungkan-sungkan meminta pendapat kami untuk kondisi yang dia hadapi.

Apa yang sedang terjadi? Rupanya Hessy yang saat itu masih single, didekati oleh seorang pria, yang mengajaknya untuk serius sampai membangun rumah tangga. Apakah diterima atau tidak? Pria itu seorang duda yang sudah punya 2 anak perempuan yang sudah remaja. Menariknya, si pria ini mendekati Hessy melalui internet. Awalnya pria ini suka mengomentari tulisan-tulisan yang dibuat Hessy di blog pribadinya. Dari gayanya memberi komentar, terlihat si pria ini memiliki wawasan yang sangat luas, kemampuan menulis yang tinggi, karena kalimat-kalimatnya mengalir dengan teratur, dan sangat sopan. Saya memberi komentar yang singkat kepada Hessy saat itu, “He is a very smart guy, you can consider him“.

Belakangan kami mengetahui bahwa nama pria itu adalah Heru Suprantio, dan setelah ditelusuri melalui internet, ternyata beliau ini adalah salah satu wartawan senior di Indonesia, dan banyak meliput kegiatan olah raga, di samping berbagai kegiatan lainnya.

Ringkas cerita, akhirnya menjelang akhir tahun 2007, Hessy dan Tio pun menikah di Pekan Baru – Riau. Kami sekeluarga pun pergi ke Pekan Baru untuk menghadiri acara pernikahan mereka. Secara khusus Hessy dan Tio meminta kesediaan saya untuk menjadi saksi dalam akad nikah mereka, dan saya dengan senang hati tentu menerima tugas itu. Kami pun bahagia melihat Hessy dan Tio berbahagia di hari itu.

Setelah menikah, mereka tinggal satu kompleks dengan kami. Tetapi walaupun demikian, karena kesibukan masing-masing, kami jarang ketemu. Malahan saya lebih sering komunikasi dengan mereka, terutama Tio, melalui Facebook. Kami cukup sering berdiskusi mengenai berbagai hal, mulai dari hal-hal yang umum, tentang kepolisian, dan tentu saja sepakbola. Malahan Tio bercerita kepada saya mengenai kekisruhan yang terjadi di tubuh PSSI akhir-akhir ini, karena rupanya beliau juga ikut ke Malang waktu Kongres Sepakbola Indonesia diselenggarakan beberapa waktu yang lalu.

Hari ini, selasa siang, 8 Maret 2011, pukul 14 siang, jenazah alm Heru Suprantio disholatkan di sebuah musholla di dekat rumahnya, dan dimakamkan di pemakaman yang kebetulan juga dekat dengan rumahnya. Banyak para pelayat yang ikut mengantar ke tempat peristirahatan terakhir, para tetangga, para civitas akademika FE-Trisakti, para tokoh-tokoh dunia pers, serta para kerabat dan keluarga. Doa pun diucapkan untuk mengantar kepergian almarhum menghadap Sang Pencipta.

Kontak saya terakhir dengan almarhum adalah pada hari Minggu, tanggal 6 Maret 2011 atau 2 hari sebelum beliau wafat. Mas Tio meninggalkan sebuah komen di wall Facebook saya, isinya mengucapkan selamat kepada anak saya Raihan atas medali perunggu yang diperoleh pada Jakarta Tae Kwon Do Festival III 2011 yang lalu dan beliau berharap Raihan tahun depan dapat medali perak, dan terus medali emas …

Terima kasih banyak … selamat jalan Bro Tio … innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.

(Berita mengenai meninggalnya beliau bisa dibaca juga di Harian Pelita, dan MetroTV).

==============

Original link:
http://ririsatria40.wordpress.com/2011/03/09/selamat-jalan-bro-tio

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.